Saya
lupa tepatnya hari apa itu. Seperti biasa ketika hati merasa gundah gulana
merana dan seperti mati rasa, aku memutuskan untuk datang ke padepokan. Jangan
dikira istilah padepokan ini sebuah tempat yang berbau gaib atau mistis ya
sobat. Istilah padepokan ini kami gunakan untuk
mempermudah komunikasi dengan teman teman di grup Kancanjagong. Grup
yang berisi orang orang ketriwal yang ingin berusaha untuk lebih menjadi baik. Menjadi lebih kreatif dalam mencerdasi
segala permasalahan yang kami hadapi. Agar hati kami menjadi bombong dan selalu merasa bersyukur. Nah
padepokan ini intinya adalah tempat berkumpul atau istilah kerennya basecamp.
Basecamp ini adalah sebuah rumah, namun bangunan ini terpisah oleh sekat dari
rumah itu sendiri. Terpisah dari ruangan inti rumah tersebut.
Nah rumah inilah atau
basecamp inilah yang kami sebut padepokan. Kang Datam, kami sering memangil
tuan rumah dengan sebutan itu. Suatu ketika saya bercerita kepada Kang Datam,
bahwa saya sedang berusaha menabung untuk keperluan berbagai hal di masa depan,
namun tabungan saya baru terkumpul beberapa ratus ribu saja, kadang juga harus
diambil untuk keperluan sehari hari seperti beli rokok, makan dll. Maklum,
belum menikah jadi masih suka makan di warung. Nah disitu saya merasa gundah,
tidak tenang karena masalah tabungan. Khawatir jika uang di tabungan ini tidak
terkumpul namun malah habis. Zonk! Perasaan takut, khawatir tak tenang sama
sekali, bercampur aduk menjadi satu. Lalu dengan tenangnya kang Datam
menanggapi keluh kesahku dengan berkata : “ Jangan sampai terjebak rasa. Jangan
sampai rasa tenang, kecukupan, syukur dan damai itu karena banyaknya jumlah nominal uang di tabungan. Semakin banyak tabungan
semakin ayem tentrem, semakin sedikit jumlah tabungan jadi semakin susah dan gundah.
Rasa tenang damai dan bahagia itu jangan karena apapun, termasuk tabungan.
Namun karena Allah .’’
Aku hanya termangu sambil mendengarkan dengan khusyuk,
kemudian kang Datam melanjutkan : “ Ini adalah hal kecil yang tak terlihat di
dalam rasa, namun begitu besar pengaruhnya. Ini bisa menjadi jebakan iman kita.
Menggantungkan rasa aman kepada uang, bukan kepada Allah. Jadi alangkah baiknya
meski kita sedang kekurangan, tetaplah merasa tenang dan aman karena Allah, dan
meski kita sedang kecukupan banyak uang, tetaplah merasa aman dan syukur karena Allah, bukan karena
apapun. DEG... Aku langsung tersadar bahwa selama ini aku terjebak oleh rasa.
Rasa yang sangat lembut merasuki hati. Membunuh akal sehat yang semestinya.
Meluap oleh ketakutan yang tak tergambar, dan melupakan apa yang seharusnya
menjadi pegangan rasa sejati. Dalam melintasi pohon kehidupan ini. Terimakasih
kang.